Friday, September 08, 2006 @10:30 PM
kemarau sungguh sudah tiba.
tetapi aku masih kedinginan...
ahhh...
⥠every page of my imagination
@4:17 AM
saya hanya ingin mengulang-ulang satu kalimat; biar bersemangat!cinta terbaik tak menuntut apa-apa sebagai balasan.
cinta terbaik tak menuntut apa-apa sebagai balasan.
cinta terbaik tak menuntut apa-apa sebagai balasan.
cinta terbaik tak menuntut apa-apa sebagai balasan.
cinta terbaik tak menuntut apa-apa sebagai balasan.
⥠every page of my imagination
@3:04 AM
embun adalah mimpi dalam tidur malam dahan.
adakah yang lebih mencintai embun melebih cinta dahan? dahan rela ditandangi embun di saat ia tertidur, dan ditinggalkan saat ia belum terbangun. embun boleh datang kapan saja, saat ia lelah. juga boleh pergi kapan saja. tetapi embun hanya mau datang saat ia lelah, di malam hari. embun akan pergi pagi sekali sebelum matahari tiba, sebelum dahan sempat mengecupnya. dahan menginginkan embun datang saat matahari yang kejam ingin membunuhnya, tetapi embun entah ke mana.
embun adalah mimpi dalam tidur malam dahan. tetapi tak ada yang lebih dicintai dahan melebihi cintanya pada embun.
nb:
saat catatan ini ditulis, saya sedang memakai t-shirt berwarna merah menyala, di dadaku ada tertulis satu kata, LOSER. di punggungku ada tertulis; i'm a loser, so why don't you kill me?
⥠every page of my imagination
Monday, August 14, 2006 @11:01 PM
yoho.... please ubah secepatnya dong latarnya blogku. sangat bukan fia gitu loh.... bagus sih bagus kali untuk orang lain, tapi, yah... maafkanlah kak that's not my type. yang konsep minimalis sajalah. yang biasa-biasa saja, sederhana, simple, dan tidak ruwet-ruwet dah. selain itu, kalau mau dicarikan latar, wah kayaknya saya tidak cocok dengan latar burung, pohon, bunga dan sebagainya. yang minimalis sajalah. thanks yah... telah mengusahakan. eh, kalau tidak dapat konsep minimalis yang seperti awal aja deh, berwarna oranye. hehehe, tapi di tambahin massage. duh, maaf yah telah merepotkan. tapi, supaya tidak repot, repot. biar deh kembali ke semula aja. thanks yah.....
⥠every page of my imagination
Sunday, August 13, 2006 @8:57 PM
SURAT BUAT KUKILA
di beranda, Kukila
ingatkah kau kursi kayu sepasang itu?
tulang-tulangnya mulai rapuh oleh waktu
ia merindukan lenganmu-lenganku menggenggam
lengannya, merindukan punggungmu-punggungku
bersandar di dadanya, merindukan pahamu-pahaku
duduk di pangkunya
di beranda, Kukila
mengertikah kau kesedihan kursi?
ia terus saja menunggumu datang
melanjutkan kisah yang kau ceritakan
sore itu, sore terakhir sebelum kau
jatuhkan dirimu ke sumur dalam kenangan
Makassar, 13 Agustus 2006
TELUR DADAR
aku sungguh-sungguh lapar
dari bingkai jendela kamar
matahari sore terlihat persis telur dadar
matang sempurna dan besar-lebar
tetapi telur dadar itu sudah terbagi-bagi
dipotong oleh antena-antena tivi tetangga
oleh kabel-kabel listrik dan telepon
dan tak ada sedikit pun untuk perutku
aku berusaha menahan airmata tak jatuh
teringat lagi telur dadar ibu
dulu aku selalu dapat satu, utuh
seperti cintanya pada kanak-kanakku
dengan liur leleh tak lelah
kutatap tanpa kedip telur dadar itu
namun beberapa detik saja kemudian
ia telah lenyap disantaplahap
oleh siapa aku tak tahu
dan lalu tinggallah langit
seperti piring kotor belum dicuci
sebentar jika gelap melingkup alam
lampu malam satu per satu padam
aku merangkak ke luar kamar
diam-diam menjilat piring langit
sebelum dibersihkan hujan atau embun
sekedar menghibur perut lapar
lalu tidur memimpikan telur dadar
Makassar, 12 Agustus 2006
RAHASIA
ada saja jalan dan waktunya
kau tahu sebuah rahasia
yang pernah kau titip di telinganya
telah menyebar sebagai bahan bicara
teman-temanmu sendiri, di belakang punggungmu
lewat mimpi di sebuah tidur siangmu yang singkat
lewat firasat atau isyarat yang ditiupkan angin
lewat mulut seorang tak kau kenal dan tak mengenalmu
lewat sepasang mata temanmu yang tak sengaja berkedip
atau bisik-bisik yang kau dengar dari balik pintu
sebab rahsia itu persis akar-akar pohon
yang kau tanam suatu hari di halaman
ia berjalan diam-diam menyembunyikan diri
di balik tanah dan rumput-rumput
dan tiba-tiba muncul membongkar lantai rumahmu
Makassar, 12 Agustus 2006
PETI MATI TABUNGAN
peti mati, kata seorang penyair tua,
adalah tabungan
sedikit demi sedikit tubuh kita dimasukkan ke situ
sampai akhirnya penuh, ditutup, dikunci, ditanam,
lalu dilupakan
akhir-akhir ini, aku lebih giat menabung
belum lagi seminggu seluruh tubuhku
sudah jatuh ke peti mati tabunganku--
jari-jari kaki-tanganku, sepasang lenganku yang letih,
kepala dan rambutnya yang belum putih,
juga mata dan hatiku yang selalu sedih
besok mungkin tabunganku penuh
persediaan tubuhku habis
kecuali tangisku--
akan tertinggal di udara bebas, di luar peti
jadi cerita lucu yang membuat kawan sendiri
tak bisa berhenti tertawa
tak ada yang akan mengucapkan selamat jalan
pada tubuhku yang pergi dan tak lagi
bisa diajak duduk bercakap tentang rupa-rupa rahasia
tetapi di sebuah rumah, di sebuah sajadah,
ada seorang perempuan tua, matanya buta,
terus mengirimkan airmata dan doa-doa
meskipun tahu anaknya seorang penjahat
Makassar, 11 Agustus 2006
PUCUK POHON PALEM
did ekt pagar belakang rumahnya
beberapa hari setelah menikah dulu
ia menanam sepohon palem entah maksudnya apa
ia tak pernah tahu hingga tibalah bulan kemarau
dan melihat pucuk pohon palem itu tumbuh
bagai sebilah tombak runcing yang ingin menembus
awan dan menusuk perut langit
agar tumpahlah bulir-bulir hujan, agar lapangan
yang tinggal butir-butir debu kembali dikunjungi rumput,
agar anak lelakinya yang suka main bola tak merah
matanya dan menangis, agar ia bisa merasakan lagi hangat
pelukan suaminya yang bergairah di musim hujan
seperti malam-malam awal pernikahannya.
Makassar, 13 Agustus 2006
⥠every page of my imagination
@7:10 PM
senang sekali saya berbincang dengan kakak kemarin. perbincangan yang sangat renyah dan menyenangkan. apalagi diiringi dengan sejentik puisi.... semakin asiklah perbincangan kita. saya benar-benar merasa terhibur. serasa you're in beside me gitu deh.... jadi ingat waktu kita berbincang di sebuah kafe di mall panakukang, makassar. saya juga senang sekali mendengar kakak sudah banyak kesibukan yang bukan sekedar sibuk, tapi juga sangat menyenangkan dan enjoyabale. yooo.... puisi "telur dadar" yang menggelitik, asik, unik dan sangat sederhana. suasana semakin dewasa dengan kalimat "enjoy your life, yah apapun yang terjadi, bagaimanapun." jalannya sudah diatur, kita bukan sutradaranya, kita hanya pemain yang terus berusaha mendalami akting kita. cut..cut..cut, yah, harus mengikuti apa kata sutradara. hmmmm.... hidup!
⥠every page of my imagination
@7:05 PM
weits,
maukah kakak membantu saya merancang sebuah pernikahan yang tidak terlalu banyak menghabiskan uang. tapi, jangan negatif thinking dulu ye.... siapa yang menikah?saya belum, tapi teman dulu, doakan saja saya juga menikah. hehehehe. ups.....
pertanyaan:
1. kira-kira ucapan terima kasihnya seperti apa?
2. design undangan yang berkonsep minimalis tapi murah seperti apa?
3. lagu-lagu romantis apa yang paling cocok? baik indonesia maupun barat
4. apa lagi kira-kira yang perlu dipikirkan?
ok, thax for ur information. saya tunggu yah....
⥠every page of my imagination
@6:52 PM
masih ingat dengan sepatu hitam saya yang kita beli bersama di Bata? masih ingatkah juga tali sepatu itu pernah lepas, dan selama hampir lima belas menit saya berusaha memasang kembali tali sepatu itu tapi tak bisa-bisa dan akhirnya kakaklah yang berhasil mengikat tali sepatu itu tak kurang dari lima menit. hahahaha... taukah kakak apa yang terjadi kemarin? kemarin, saya ke Gaint berbelanja keperluan sebulan, sedang asyik-asyiknya belanja, tak sengaja, tali sepatu itu lepas. karena sedang terburu-buru, akhirnya tali sepatu itu saya selipkan di dalam sepatu, maksudnya saya injak di dalam sepatu. Di dalam kendaraan, saya berusaha mengikatnya kembali, tapi... wah, saya tidak bisa mengikat seperti sedia kala. hiks...hiks..hiks... saat itu juga, tiba-tiba saja saya sangat membutuhkan kakak untuk mengikatkan tali sepatu saya kembali. How pity i am... Sialnya lagi, hari ini, saya sudah merencanakan memasukkan tulisan-tulisan saya yang telah saya tulis beberapa hari yang lalu. segala persiapan telah mantap, dan berangkat deh ke kantor. sampai di kantor, mau menyalakan komputer, taukah kakak kecerobohan apa yang saya lakukan, saya lupa membawa flashdisk saya yang di dalamnya terdapat semua tulisan-tulisan itu. Waaaa.... benar-benar ceroboh!
⥠every page of my imagination
Tuesday, August 08, 2006 @9:17 PM
chatting bareng Rama
Hari Minggu lalu saya meliput peristiwa pemecahan rekor dunia oleh 50
diffable [saya lebih suka menyebutnya difable daripada penyandang cacat] di Pantai Losari. Di sana saya bertemu dengan beberapa karakter-karakter unik yang kemudian merangsang saya untuk menulis sebuah
indepth reporting tentang tuna netra, [saya jadi ingat cerita
The Country of the Blind karya H.G. Wells]. Sepulang dari sana, saya mewawancarai banyak tuna netra dan teman-teman mereka. Untuk kepentingan tulisan saya berselancar memakai Google (sekarang saya sedang baca buku berjudul
The Story of Google)dan bertemu sebuah web milik seorang tuna netra bernama Eko Ramaditya Adikara atau Rama yang tinggal di Jakarta.
Kemarin sore, saya sangat beruntung menemukan YM! Rama
online dan bisa berbincang panjang lebar dengannya. Terakhir, dan ini membuat saya sungguh senang, kami bersepakat untuk memulai sebuah proyek bersama (proyek itu masih rahasia dong!)
Rama ini hebat sekali, sungguh! Kalau tidak percaya minta saja Google membantumu mencari Eko Ramaditya Adikara atau kalau gak mau repot langsung saja ke www.ramaditya.com.
⥠every page of my imagination
@1:27 AM
dulu saya pernah punya cita-cita jadi penyiar; suaraku didengar oleh orang-orang (mungkin beberapa orang akan mengaguminya meskipun tak tahu wujud rupaku sebenarnya). cita-cita itu pernah tenggelam oleh waktu dan cita-cita lain...
akhir-akhir ini, keinginan itu muncul kembali seperti hantu masa lalu. dan saya akan mengusahakannya agar terwujud...
sekedar informasi saja, Delta FM Makassar (99,2 MHz) sedang melakukan pembicaraan serius dengan saya agar saya punya acara khusus di sana. Nama acaranya Wisata Baca, sebuah acara yang akan berbicara tentang dunia buku. wuih, senangnya saya... dua dunia yang sama-sama saya suka (buku dan radio) bakal menjadi kesibukanku di setiap Malam Minggu pukul 19.00 - 20.00...
jadi sekarang saya sudah punya beberapa aktivitas yang sama-sama saya suka:
1. Menulis (sekarang sedang menggarap Sebuah Novel dan sebuah Cerita bersambung--novel yang di penerbit itu kok belum beredar ya?)
2. Tetap menghidupkan sekolah menulis gratisku (University of Writing) setiap Sabtu dan Rabu pukul 16.00 - 18.00
3. Menjadi citizen reporter di www.panyingkul.com
4. Jadi pengisi acara di Wisata Baca Delta FM Makassar
5. Membaca dan membaca berbagai maam buku....(senangnya!)
⥠every page of my imagination
@1:16 AM
kadang-kadang saya merasa tak lebih sebuah lampu lima watt. sinarnya hanya cukup melihat diriku sendiri. kalau sudah begitu, saya merasa menjadi sangat asosial; tak peduli pada siapa pun. namun tak jarang lebih terang dari lampu sorot di stadion olahraga manapun; membuatku silau...
seperti saat sekarang ini, ingin sekali rasanya aku jadi Si Lima Watt yang tak perlu menerangi siapa pun...
atau sekiranya bisa tak perlu jadi lampu. tetapi tentu saja itu tak akan mungkin... saya dan siapa pun ternyata hidup untuk mata orang lain.
[saya sedang nulis apa ini ya?]
⥠every page of my imagination
Monday, August 07, 2006 @10:58 PM
Telah seminggu sulit tidur. banyak persoalan yang saya pikirkan. tapi, sepertinya ada 2 persoalan yang akan sedikit tertangani. Setelah beberapa hari sulit tidur, akhirnya tadi malam saya tidur dengan nyenyaknya...alhamdulillah. setelah merenung beberapa lama, akhirnya jawaban kesulitan tidur karena saya terlalu memikirkan latihan soal test toefl, kalau belum menemukan jawaban yang benar atau belum mengerti dengan soalnya, saya jadi penasaran, so... buku toefl itu selalu ada di samping kanan tempat tidur saya. Alasan lain, karena lampu tidur telalu terang. Tadi malam saya beli lampu lima watt, mengganti lampu tidur yang terlalu terang itu, dan akhirnya.... setelah menyelesaikan beberapa soal test toefl dan mengganti lampu tidur, saya bisa tidur dengan nyenyak. Dampaknya, saya jadi kepengen tidur terus... saya jadi bingung??? ada apa yah dengan saya??? stress? mungkin.....
⥠every page of my imagination
@10:52 PM
seusai membaca neruda, tiga melankolia
/1/
warung kecil depan rumah
menjual deterjen, aku beli selusin
untuk mencuci baju, celana, aroma
tubuhmu, dan air mataku sendiri
sebelum kenangan kekal sebagai noda
yang harus kubawa ke mana-mana
matahari yang berlari-lari
di atas jemuran temali
telah pula menguapkannya
ke langit untuk kemudian
turun sebagai biji-biji hujan
dan kembali membasahimu
menyamarkan airmatamu
di sebuah jalan entah di mana
saat engkau berjalan sendiri
tanpa siapa menuntun lenganmu
tetapi gendang telingaku
tak pernah mampu dibersihkan
dari pengeras suara yang memanggil
namamu di bandara malam itu
sesaat setelah kita bersepakat
pasrah dikalahkan oleh waktu
lalu berpisah tanpa ada yang berani
menjanjikan pertemuan sekali lagi
/2/
sepatu dan kaos kaki yang membuat geli
baju penghangat, minuman dingin,
dan nasi dalam kemasan warna-warni,
juga dokter lulusan luar negeri,
bahkan bait-bait puisi, manisku,
tak bisa mencegah usiaku dipanen paksa
dan masa kecilku, waktu itu,
masa remajaku, matangku,
jalan-jalan tanah, udara pagi,
dan kaki-kaki telanjang,
juga sepasang mataku, cerminmu,
telah pula hilang dan, sialan,
pencurinya tak pernah tertangkap
lalu seluruh kau, nasibku,
siapakah yang menyembunyikan
bau parfum, suara, dan jari-jarimu dariku?
kenangan kini, telah bertahun-tahun
jadi pertanyaan tanpa seorang pun
mampu menemukan jawabnya untukku
di ruang tengah rumah ini,
koran-koran dan televisi sibuk
menawarkan aneka jenis kepedihan
untuk menu sarapan dan makan malam
dan halaman di depan kursi beranda
membawa rangkaian bunga-bunga
setiap hari, setiap waktu,
sebagai perayaan kematianku
dan di belakang rumah
ada sumur tua sejak lama
berulang menimbun belulangku
di atap rumah, masih ada satu matahari,
warna kuning dan kadang jingga atau emas
kadang pucat bagai mayat, bagai wajahku,
dan, sungguh, ia masih hangat seperti dulu
hangat seperti airmataku yang jatuh
di bukit pipimu malam itu, saat itu,
saat terakhir, sebelum waktu tak mampu
melakukan apa-apa selain menyiksaku
dan sempurna merahasiakanmu
/3/
nomormu di memori ponselku
menyimpan jutaan percakapan
untuk kuputar dan kudengar
ulang berkali-kali setiap saat,
setiap menginginkan namaku
dipanggil bagai kanak-kanak
kemarin aku menghubunginya
ia tak lagi aktif, kata seseorang,
lalu ke mana aku mengirimkan
selembar obituari diriku ini?
Makassar, 17 Mei 2006
⥠every page of my imagination
@10:02 PM
pada sebuah pohon
udara begitu kelam diam bagai air kolam. ada yang mengendap-endap ke dalam kenangmu, pelan meletakkan satu ciuman di keningmu. seluruh waktu silam tiba-tiba ingin kembali engkau sulam. engkau berdiri mencari di mana gerangan kini ia tertambat, sambil tak henti berdoa semoga engkau tak terlambat.
⥠every page of my imagination